Ketika kamu hidup di Jakarta atau di kota besar dengan tingkat traffic tinggi, pasti sering atau bahkan mungkin setiap hari dibuat pusing oleh riweuhnya suasana jalanan. Begitu banyak kendaraan dari segala arah, kemacetan dimana-mana, serta masih minimnya etika berlalu lintas di negara kita sangat memprihatinkan.
Dalam berlalu lintas, ada berbagai tipe pengemudi yang bisa ditemui. Yang baik hati ada, yang membuat kesal juga banyak. Ada juga pengemudi yang tidak pernah mau mengalah. Tidak usah jauh-jauh mengambil contoh, teman saya sendiri ada yang seperti itu. Pada suatu ketika, dia menyetir dan saya menebeng, dan lampu dari arah kami hijau sudah hampir merah, sedangkan mobil di depan masih tersendat. Dia masih memaksa untuk maju dan dempet dengan mobil depan. Sehingga hal ini membuat tersendatnya arus kendaraan dari arah lampu hijau. Ketika saya ingatkan, dia malah dengan bangga berkata,”Iya gwe kalo nyetir emang gini, gak mau kalah, biarin lah yang penting kita udah maju duluan”. Dari intonasi dan cara dia berbicara, tampaknya dia bangga sekali dengan kemampuan menyetir dan menyalipnya. Teman saya yang saat itu di mobil juga bilang “bagus, bagus”, menyetujui keputusan si pengemudi. Memang, kalau kami tadi tidak maju akan menunggu lagi sekitar 15-20 menit lamanya di lampu merah tersebut. Tapi tetap saja, menurut saya pernyataan teman saya tersebut childish sekali.